Para seniman dari Teater Studio Indonesia (TSI) yang berasal dari Serang, Banten telah berhasil memukau para penonton dalam acara “14th International Street & Open Air Theaters Festival FETA”, yang berlangsung di Gdańsk, Utara Polandia, 15 s/d 18 Juli 2010. Festival diikuti dari beberapa negara, seperti Indonesia, Jerman, Belgia, Spanyol, Swedia, Norwegia, Rusia, Polandia, Belanda, Denmark.
Nandang Aradea, Direktur Artistik TSI yang juga sekaligus menjadi Sutradara dari pementasan “Perempuan Gerabah”, mengusung 10 orang awak TSI yakni para aktor, penata panggung, termasuk pembuat gerabah untuk berakting di Reduty Wilk, Gdańsk pada hari Sabtu (17/7) dan Minggu (18/7). Gerabah yang dibawa langsung dari Indonesia (Banten) turut melengkapi pertunjukan mereka selama di Gdańsk.
Durasi waktu pertunjukan berlangsung sekitar 75 menit, dan didukung oleh aktor Desi Indriyani, Dindin Sapruddin, Suryadi Sali, Taufik Pria Pamungkas, Farid Ibnu Wahid serta Rasmi Bt. Maskad. Pada pementasan “Perempuan Gerabah” panggung ditata dengan menggunakan jerami dan bambu-bambu kecil di atas panggung. Panggung yang disusun dengan jerami dapat berputar ketika para aktor tampil.
Rasmi Bt. Maskad yang akrab dipanggil “Emak” adalah pembuat gerabah-gerabah yang digunakan dalam pementasan teater ini. Iapun memperlihatkan cara membuat gerabah kecil secara sederhana dengan alat yang dibawanya.
Dalam lakon “Perempuan Gerabah”, menurut Nandang, menceritakan mengenai hidup di dunia kita sekarang adalah hidup di dunia yang berantakan, yang berkeping-keping, yang bergulat entah untuk apa, yang memberhalakan pangkat dan jabatan namun memuja intelektual, yang seirama dalam ketidakberiramaan, yang paradoks, yang dilematis, yang bahagia sekaligus sakit, yang pintar tetapi rakus, yang menyeru hemat energi sambil mengendarai mobil yang boros bbm, yang toleran namun sinis, yang merdeka namun terikat. Hidup menjadi binatang dalam hutan atau orang gila dalam perkotaan.
Dunia inilah yang melatarbelakangi lahirnya ide pentas teater “Perempuan Gerabah”. Tanah telah membuat kita masuk dalam sumber konflik dan bencana. Manusia dengan susah payah membangun dunia (gerabah, sebagai analogi), dan setelah menjadi sebuah bentuk, manusia merayakannya, membanggakannya, tapi di kemudian hari dunia itu jadi tidak berharga, retak, pecah, diinjak kaki kita sendiri dengan entah harus sakit atau bahagia.
Inti dari pentas teater “Perempuan Gerabah” ada dua kata kunci menurut sang Sutradara yakni membangun dan menghancurkan. Pada akhir pentas para penontonlah yang menyimpulkan sendiri makna yang disampaikan dari pertunjukan tersebut, ujar Nandang.
Diungkapkan oleh Nandang, bahwa “Perempuan Gerabah” pernah dipentaskan secara keliling di berbagai kota di Indonesia, seperti di Serang, Surabaya, Jakarta, Palembang dan Lampung. Untuk pertama kalinya kelompok TSI menampilkan “Perempuan Gerabah” pada Festival Teater Internasional di Polandia.
Usai pertunjukan, Kelompok TSI menuju Jakarta melalui Istanbul pada tanggal 20 Juli 2010. (KBRI Warsawa).